-->

Mahasiswa Protes Dedi Mulyadi Bersihkan Pasar - taniasik.com

Sedang bersihkan sampah di Pasar Rebo Purwakarta, Jawa Barat, Anggota DPR RI Dedi Mulyadi diprotes seorang mahasiswa.

Mahasiswa itu menanyakan kewenangan dan dasar hukum Kang Dedi membersihkan sampah di tempat itu.

Pernyataan mahasiswa itu membuat Kang Dedi bingung dan marah.

Pasalnya, mahasiswa itu mengatasnamakan mewakili warga Purwakarta.

Kang Dedi yang juga merupakan warga Purwakarta kemudian tak terima dengan pernyataan mahasiswa.

Tak hanya Kang Dedi, Ikatan Warga Pasar (Iwapa) Pasar Rebo Purwakarta juga mencecar mahasiswa itu yang mengklaim dirinya mewakili warga Purwakarta.

"Masyarakat mana yang anda wakilin.

Mana bukti legalitas anda mewakilin," ujar Kang Dedi kepada mahasiswa itu

Seakan kena mental, sang mahasiswa yang hanya seorang diri justru gelagapan ketika didebat Kang Dedi.

Bahkan ada satu kata yang terus menerus diulang sang mahasiswa sampai dinyinyiri Kang Dedi.

Mahasiswa itu mengucapkan kata artinya berulang kali hampir tiap hendak mengucapkan argumennya.

"Artinya begini" menjadi kata yang selalu diulang-ulang sang mahasiswa itu.

Ditanyai Dasar Hukum

Dilansir dari channel Youtubenya, Awalnya Kang Dedi bersama sejumlah warga pasar sedang memunguti sampah yang berserakan di area Pasar Rebo Purwakarta.

Baca juga: Kebersihan bagian dari iman

Tiba-tiba, pria yang mengaku mahasiswa datang memprotes kegiatan Kang Dedi.

Meski tidak dengan berteriak-teriak, mahasiswa itu menanyakan dasar hukum mantan Bupati Purwakarta itu melakukan hal tersebut.

"Dasar hukumnya apa?," protes mahasiswa itu.

"Kalau kita mencintai kebersihan harus ada dasar hukumnya?," kata Kang Dedi balik bertanya.

"Yang punya kewenangan mereka kok (menunjuk para pejabat di Pemkab Purwakarta yang ikut dalam kegiatannya), saya membantu," tegas Kang Dedi.

Mahasiswa itu kemudian tetap bersikukuh menanyakan kewenangan Kang Dedi bersih-bersih di pasar.

"Saya disini sebagai warga menanyakan akang," ujar sang mahasiswa.

"Saya juga warga Purwakarta," ujar Kang Dedi dengan nada bicara mulai meninggi.

"Artinya disini kan siapa yang bertanggungjawab," tutur mahasiswa.

"Saya gamau tahu siapa yang bertanggungjawab. Ini kan kewajiban masyarakat," ujar Kang Dedi mulai kesal dengan sikap mahasiswa yang seolah melarangnya bersih-bersih.

"Akang disini bukan pelaksana teknis terkait kebersihan," balas sang mahasiswa.

"Enggak ada masalah, ngurus sampah mah kewajiban," timpal Kang Dedi.

Kang Dedi jadi tak simpatik bersama mahasiswa itu kala sang mahasiswa seolah menggiring opini untuk menyangkutpautkan posisi Kang Dedi di pasar itu bersama jabatannya sebagai Anggota DPR RI.

"Saya (disini) bukan wakil ketua komisi, saya warga Purwakarta yang cinta kebersihan," ketus Kang Dedi.

Namun jawaban mahasiswa itu terkesan mencari-cari kesalahan Kang Dedi.

Sambil mengatakan kata artinya lagi, pernyataan mahasiswa itu hanya berputar-putar di soal itu-itu saja.

"Sepakat kang, saya juga mencintai kebersihan.

Artinya ini tanggungjawab masyarakat," ujar sang mahasiswa.

"Kalau Anda cinta kebersihan kenapa ini dibiarkan

Ini dikelola Ikatan Warga Pasar (Iwapa), ini ga bersih, terus saya biarkan?," geram Kang Dedi.

"Ini kan harusnya ada yang punya kewenangan," jawab sang mahasiswa seakan berputar-putar di soal yang sudah dijawab Kang Dedi.

Kang Dedi pun kemudian meluapkan kekesalannya ke kamera.

"Saya kasih tahu ya netizen, saya lagi bersihkan ini, dia (mahasiswa) protes.

Saya gamau melayani orang yang berteori," ujar Kang Dedi yang sudah ogah menanggapi sang mahasiswa.

Klaim Mewakili Mahasiswa

Namun, ucapan mahasiswa itu yang mengklaim dirinya mewakili masyarakat Purwakarta membuat Kang Dedi naik pitam.

Tak hanya Kang Dedi, para warga pasar juga menanyakan klaim mahasiswa itu.

Sebagian dari pedagang dan warga yang menonton perdebatan itu meminta Kang Dedi tak usah menanggapi sang mahasiswa.

"Saya ini mewakili masyarakat Purwakarta," ujar sang mahasiswa.

"Masyarakat mana, saya asli Purwakarta," ujar salah satu pedagang yang mencoba menengahi.

Namun sang mahasiswa yang tampak gelagapan dan tak bisa menjawab dengan tegas pertanyaan itu tetap berbicara dengan kalimat yang diawali kata artinya dan terkesan dilpomatis.

"Masyarakat mana yang anda wakilin.

Mana bukti legalitas anda mewakilin," cecar Kang Dedi.

Sedangkan sang mahasiswa hanya menjabat "Artinya begini, artinya begini, artinya begini," jawab mahasiswa itu yang tak menjawab pertanyaan Kang Dedi.

Kang Dedi yang mulai menurunkan nada bicaranya itu kemudian menyimpulkan maksud kedatangan mahasiswa itu.

"Anda protes terhadap gerakan kebersihan yang saya lakukan," kata Kang Dedi.

"Tidak diprotes, tapi kewenangan dan kompetensinya," ujar sang mahasiswa dengan jawaban yang itu lagi.

"Membersihkan sampah gaperlu kompetensi.

Tangan anda gapernah kotor, tangan saya suka kotor," ujar Kang Dedi.

"Saya juga suka bebersih pak," debat mahasiswa itu.

Kang Dedi yang mencoba menahan emosi kemudian menanyakan darimana mahasiswa ini tinggal.

Mahasiswa itu menjawab tinggal di Plered.

"Rumah anda di Plered.

Yang bersihin Plered siapa

Yang parkir mobil sebulan ga ada yang beresin siapa," tanya Kang Dedi kepada mahasiswa itu.

Untuk menenangkan situasi agar tak makin memanas, mereka pun melanjutkan perdebatan itu ke kantor milik Pemkab yang tak jauh dari lokasi depan pasar.

Disana Kang Dedi menanyakan asal mahasiswa itu.

Mahasiswa itu mengaku berkuliah di STAI Muttaqien dan mewakili lembaga kajian bantuan hukum.


Kang Dedi kemudian meminta mahasiswa itu tak hanya pintar berteori dan omong besar.

Pasalnya, kata Kang Dedi, kalau dia memang cinta kebersihan, maka tak seharusnya wilayah tempat tinggal sang mahasiswa itu dibiarkan kotor.

"Gang Sekolah (wilayah tempat tinggal mahasiswa) itu kotor

Di depan kantor desa itu kotor.

Penempatan sampah ga ada.

Anda warga harusnya diskusi dengan Kades dengan RT dan RW," tegur Kang Dedi.

"Kenapa anda mahasiswa ga ada kepekaan tiap hari warga buang sampah ke situ dan anda membiarkan.

Jangan-jangan Anda ikut buang," lanjut Kang Dedi.

"Mana ada saya buang, saya tiap hari di sini (di sekred mahasiswa)," jawab mahasiswa itu dengan nada tak suka.

Kang Dedi yang kembali geram dengan jawaban sang mahasiswa yang berputar-putar langsung memotong ucapan mahasiswa yang kembali mengatakan artinya.

"Jangan banyak artinya. Rumah Anda dimana?," tanya Kang Dedi.

"Rumah saya di Gang Sekolah tapi tinggal di sini," jawab mahasiswa itu dengan nada sedikit gelagapan.

Disebut Ngomong Ketinggian

Kang Dedi kemudian menanyakan apakah mahasiswa itu tak malu bila di lingkungannya itu banyak sampah.

"Harusnya malu Anda sebagai warga Plered.

Mungut sampah di Plered dilakukan oleh saya," tegas Kang Dedi.

"Ya ga malu pak," jawab sang mahasiswa sekenanya.

"Anda gapunya malu.

Anda jangan ketinggian ngomong

orang yang berpikir seperti Anda
membuat negara ga akan maju

Pinternya berteori, ngomongnya tinggi," beber Kang Dedi.

Mahasiswa itu kembali
Sementara itu, sang mahasiswa yang seolah tak berkutik saat didebat Kang Dedi justru menunjukan ekspresi yang kurang sopan dari nada bicaranya.

Mahasiswa itu kembali menanyakan peran dan fungsi Dedi Mulyadi membersihkan sampah di Pasar Rebo Purwakarta.


"Saya sebagai warga Purwakarta bareng bersama ikatan pasar membersihkan sampah.

Salahnya apa?

Justru Anda harus malu, orang setingkat saya Dedi Mulyadi, wakil Ketua Komisi IV mau mungut sampah, mau bersihkan lingkungan.

Orang yang baru mahasiswa kaya anda lagunya udah kaya menteri," ujar Kang Dedi meluapkan emosinya.

Ketika sudah diskak soal keberadaan Kang Dedi bersihkan sampah, mahasiswa itu justru lompat ke masalah lain.

"Jadi begini kang, kita ini kan bukan persoalan terkait tentang sampah.

Artinya disini ada perelokasian pedagang kaki lima yang memang tidak sesuai aturan kan pak," kata mahasiswa.

"Sebentar dulu jangan lompat-lompat," sela Kang Dedi.

"Artinya kita ga bahas sampah disini," kata sang mahasasiswa.

"Loh Anda bahas sampah daritadi," kata Kang Dedi.

Lantaran tak ada titik temu, Kang Dedi mengajak mahasiswa itu untuk bersih-bersih ketimbang hanya sekadar berteori.

"Jangan kebanyakan artinya, saya juga pernah kuliah, saya juga pernah demo," kata Kang Dedi.

"Mahasiswa itu pinter tapi gabisa nempatin diri," kritik Kang Dedi kepada mahasiswa itu.

Namun mahasiswa itu menolak ajakan bersih-bersih dengan alasan mau ada diskusi.

"Diajak bersih-bersih gamau, ada agenda lagi," tutur Kang Dedi.

Namun sang mahasiswa berkilah siap mengerahkan teman-temannya untuk ikut bersih-bersih di lain waktu.

"Artinya kan kita punya kesibukan, jangan sepihak dong," jawab mahasiswa itu.

SUMBER : jakarta.tribunnews.com







LihatTutupKomentar